Perlombaan Eksplorasi Bulan

UNTUK mengeksplorasi Bulan, Jepang menyiapkan SELENE dan China membangun Chang’e 1. Rusia tidak ingin tertinggal dan menyiapkan misi penerbangan manusia ke Mars.

Negara-negara di dunia berlomba mengejar ketertinggalan dari AS dalam mengeksplorasi Bulan. Jepang mengaku sedang menyiapkan proyek antariksa terbesar sejak Apollo. China dan Rusia tidak ingin tertinggal. Kedua negara itu bahkan mempersiapkan
pendaratan di Bulan. Badan antariksa Jepang mengungkapkan, perekonomian paling kuat Asia tersebut siap meluncurkan misi tidak berawak ke Bulan pada Kamis 13 September 2007. Dalam mengeksplorasi Bulan, Jepang mengandalkan satelit SELENE, yang sudah mengalami penundaan selama empat tahun akibat masalah mekanis.

Setelah peluncuran satelit Jepang, China diperkirakan segera menyusul dengan meluncurkan wahana Chang’e 1 ke angkasa luar. Badan antariksa China NSA mengungkapkan, satelit Chang’e 1 dan roket Changzheng 3 sudah berhasil lolos dalam setiap tahap pengujian dan landasan peluncuran sudah siap. Pada Juli, Menteri Teknologi Pertahanan China mengungkapkan, China siap meluncurkan misi Bulan pada akhir tahun. Namun demikian, China diperkirakan segera menjalankan misi tersebut karena tidak ingin tertinggal dari Jepang.

”Saya tidak mau memandang misi eksplorasi Bulan sebagai sebuah perlombaan menang-kalah. Namun saya yakin, siapa pun yang mampu meluncur lebih dulu, misi Bulan oleh Jepang memiliki teknologi lebih unggul. Kami yakin misi Jepang mampu menyajikan terobosan ilmiah,” papar eksekutif badan antariksa Jepang JAXA Yasunori Motogawa. Jepang memang harus mampu menciptakan teknologi lebih baik apabila tidak ingin tertinggal dari China. Dalam beberapa tahun terakhir, program antariksa China, yang dikelola militer, memang mengalami kemajuan luar biasa.

Pada 2003, China mengejutkan dunia karena mampu menjadi negara Asia pertama yang mampu meluncurkan astronot ke angkasa luar. China juga sudah mampu membangun pertahanan peluru kendali antisatelit. Padahal, teknologi tersebut sebelumnya hanya dimiliki AS dan Rusia. Merasa tertinggal dari Beijing, Tokyo bekerja keras. Pada Februari, Jepang menyelesaikan pembangunan empat satelit mata-mata yang mampu memantau setiap titik di permukaan Bumi pada setiap hari. Namun, efektivitas proyek satelit Jepang tersebut memicu kemunculan tanda tanya besar karena salah satu satelit mata-mata ternyata menjumpai kegagalan.

Tokyo membelanjakan sekitar USD500 juta per tahun untuk proyek yang sudah berjalan sekira sepuluh tahun tersebut. Kekuatan-kekuatan regional Asia, yakni India, Korea Selatan, Malaysia, danTaiwan seluruhnya sudah memiliki satelit di orbit. Pada 1998, Korea Utara bahkan mengaku sudah meluncurkan satelit dengan peluru kendali balistik. Satelit Korea Utara tersebut konon digunakan untuk menyiarkan lagu puji-pujian terhadap pemimpin Korea Utara Kim Jong Il.

Namun, misi-misi kekuatan regional Asia tersebut tidak ada yang seambisius misi China dan Jepang. Badan antariksa Jepang mengungkapkan, proyek eksplorasi Bulan terbesar Jepang, yakni SELENE, menghabiskan biaya sekira USD276 juta. Proyek SELENE dinilai memiliki ambisi dan ruang lingkup yang jauh lebih besar daripada program Luna Uni Soviet dan proyek Clementine and Lunar Prospector NASA. Hanya proyek Apollo yang mampu mengalahkan ambisi proyek SELENE.

Dalam proyek SELENE, Jepang berencana mengorbitkan sebuah satelit utama di sekitar Bulan dan mengorbitkan pula dua satelit lebih kecil untuk mempelajari asal mula pembentukan Bulan dan evolusinya. SELENE bukan misi Bulan pertama Jepang. Pada 1990, Jepang meluncurkan sebuah wahana Bulan. Namun, wahana tersebut hanya melintasi Bulan. Dan, tidak seperti SELENE yang mengorbit dalam waktu lama di sekitar
Bulan. Tidak ingin kalah, satelit Chang’e 1 China juga disiapkan untuk mengorbiti Bulan. Chang’e 1 dilengkapi kamera stereo dan teknologi X-ray Spectrometer untuk memetakan permukaan Bulan secara tiga dimensi dan mempelajari debu Bulan.

Kantor berita resmi China Xinhua mengungkapkan, China sudah menghabiskan anggaran USD185 juta untuk mengembangkan Chang’e 1. Dalam misi berikutnya, Beijing bahkan berambisi mengambil sampel tanah Bulan. Lebih dari itu, Xinhua melaporkan, China juga mempersiapkan misi pendaratan manusia di Bulan pada 15 tahun mendatang. Jepang mempersiapkan pula misi yang sama dan diperkirakan akan berjalan pada 2025. Misi pendaratan manusia di Bulan juga disiapkan Rusia. Badan antariksa Rusia Roskosmos mengungkapkan, astronot Rusia akan mendarat di Bulan pada 2025.

Hingga saat ini, misi pendaratan Bulan baru dilakukan ekspedisi Apollo pada 1968. ”Kami akan mendaratkan manusia di Bulan pada 2025 dan membangun stasiun berawak di permukaan Bulan pada 2027- 2032,” tandas juru bicara Roskosmos Anatoly Perminov. Perminov menjelaskan, Rusia mempersiapkan misi eksplorasi angkasa luar besar-besaran hingga 30 tahun mendatang. Namun, Perminov menegaskan, misi Rusia jauh lebih efisien daripada AS karena hanya menggunakan anggaran kurang dari 10 persen anggaran eksplorasi antariksa AS. Pada saat ini, misi antariksa Rusia difokuskan terhadap modernisasi stasiun antariksa internasional ISS. Namun, Perminov menegaskan, Rusia juga akan menyiapkan ekspedisi Mars. Rusia berharap dapat menerbangkan manusia ke Mars pada 2035. (ahmad fauzi/sindo/ mbs)

Yup, bangkitlah Indonesia….

Harapan itu masih ada……………